Bersabar Di Jalan Da’wah

Bila da’wah tengah memperoleh kemajuan dan keberhasilan diberbagai bidang hingga mengantarkan umat Islam menuju kebangkitan, maka hal terpenting yang mesti dilakukan para da’i adalah melakukan Istighfar. Istighfar akan berfungsi sebagai sinyal yang mengingatkan para da’i agar tidak ghurur dengan keberhasilan da’wah yang dicapai. Kemenangan adalah sunnatullah sebagaimana halnya kekalahan. Keduanya akan silih berganti mengiringi suatu perjuangan. Allah SWT menegaskan: “Bila datang pertolongan Allah dan kemenangan, serta kalian lihat manusia masuk Islam berbondong-bondong, maka bertasbihlahdengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah Maha Penerima Taubat.” (QS An-Nashr: 1-3)

Keberhasilan hakikatnya merupakan ibtila’ (cobaan) dari Allah yang lebih berat dari bala’ (kesusahan). Seorang ulama bijak berkata: “Bala’ (cobaan kesusahan) relative masih bisa disabari oleh setiap muslim, tapi keberhasilan dan kesenangan jarang sekali mampu disabari, kecuali oleh orang-orang yang siddiq.” Ketika pintu-pintu dunia dibukakan kepada para sahabat Nabi, sebagian dari mereka berkata, ”Kami sering dicoba dengan kesengsaraan, lalu kamipun bersabar. Namun ketika kami dicoba dengan kesenangan dan kemewahan, diantara kami banyak yang tidak mampu bersabar.”

Mushthafa Mansyur dalam bukunya yang berjudul “Jalan Menuju Pembebasan” menempatkan ketidaksabaran (termasuk ketidaksabaran terhadap kesenangan dak kemenangan) sebagai salah satu factor penyebab penyimpangan (inhiraf) dalam da’wah. Orang yang tidak sabar cenderung isti’jal (tergesa-gesa) dan kurang memahami manhaj da’wah Rasulullah saw. Imam Al Ghazali berkata: “Sabar dalam kesenangan lebih berat lanaran setiap orang cinta kepada kenikmatan. Banyak orang yang mampu menahan lapar ketika tidak ada makanan. Namun sulit untuk bersabar tatkala makanan yang lezat sudah terhidang dihadapannya.” Beliau juga menjelaskan, sabar terhadap kesenangan adalah tidak cenderung berat kepadanya, tidak larut dalam kenikmatan dan memahami bahwa semua itu adalah titipan Allah yang sewaktu-waktu akan diambil kembali.

Dalam medan jihad, peristiwa Perang Uhud cukup memberi pelajaran (ibroh), betapa menahan nafsu untuk segera menikmati kemenangan dan keberhasilan amat sulit. Turunnya pasukan pemanah dari atas bukit karena tidak sabar melihat ghonimah (harta rampasan perang), mengakibatkan bencana yang memporak-porandakan kaum muslimin. Pasukan Quraisy pimpinan Khalid Bin Walid (sebelum masuk Islam) yang tadinya kocar-kacir balik menyerang setelah melihat pasukan pemanah kaum Muslimin tidak berada di posnya.

Seorang aktivis da’wah sering kali dihadapi dilema, antara tuntutan da’wah dan kebutuhan dunia. Aktivitas da’wah, tidak dipungkiri banyak! Menyita waktu, tenaga dan pikiran, bahkan biaya. Namun disisi lain pola hidup yang semakin komplek dan modern, menuntut seorang da’i untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Misalnya pemenuhan kebutuhan keluarga, pengembangan dan peningkatan aktualisasi diri, serta hubungan masyarakat (‘alaqoh ijtima’i). Untuk mengakomodasi semua tuntutan di atas, dibutuhkan keputusan bijak yang berlandaskan fiqh muwazanah(konsep keseimbangan), fiqh aulawiyat (konsep prioritas), dan fiqh waqi’ (konsep realitas).

Namun sebagian bahan pertimbangan, ada baiknya setiap aktifis da’wah merenungkan firman Allah SWT, dalam surat Al-Anfal: 26-29.

Dalam ayat 26, Allah SWT melukiskan suasana da’wah Rasulullah Saw pada masa ta’sis (perintisan). Pada masa itu Rasulullah Saw melaksanakan da’wah fardiyah secara sembunyi-sembunyi. Jumlah pengikut baru belasan orang. Ketika da’wah beliau mulai tercium kaum musyrikin Quraisy, satu persatu dari sahabat mendapat terror dan penyiksaan. Shock Teraphy yang dilancarkan kaum Quraisy, menimbulkan rasa takut dan khawatir dikalangan sahabat aktifis da’wah pada waktu itu. Disinilah Allah mengingatkan agar setiap aktifis da’wah tidak melupakan masa lalu pribadi dan da’wahnya.

Adalah merupakan sunatullah, bahwa setiap aktifis da’wah pada awal perintisannya memiliki gambaran lemah, tertindas, kekurangan SDM, dan selalu diliputi ketakutan. Kemudian, seiring berjalannya waktu, Allah memberikan pertolongan-pertolongan sehingga da’wah yang dulunya lemah dan tertindas menjadi kuat, pengikutnya bertambah banyak dan perasaan takut berubah menjadi ‘izzah dan keberanian.

Keberpihakan Allah kepada aktifis da’wah melahirkan kemenangan-kemenangan sehingga dunia yang tadinya terasa sempit terasa menjadi lapang, rezeki mengalir bak air sungai dan peluang-peluang menuju kehidupan yang lebih baik dan mapan terbuka lebar.

Medan da’wah pun makin luas dan beragam. Pada masa ta’sis, aktivitas da’wah terkonsentrasi pada aspek pengokohan akidah, pembenahan akhlak dan pembentukan pribadi yang paripurna yang berkomitmen kepada Islam. Tahap selanjutnya, orientasi da’wah bertambah kepada membentuk keluarga sakinah-mawaddah-rahmah dan menciptakan masyarakat yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Satu hal yang diwanti-wanti Allah SWT sejak awal adalah dampak orientasi da’wah yang makin luas, yaitu terpecahnya konsentrasi aktifis da’wah. Ayat 27-28 menjelaskan fenomena negatif dalam da’wah, seperti futur, insilah, serta mengkhianati amanah Allah dan Rasul-Nya lebih banyak disebabkan oleh faktor harta dan keluarga. Inilah bukti kebenaran ucapan para ulama salaf di atas bahwa menyabari ibtila’ yang berbentuk kesenangan dan kemenangan lebih berat dari bala’ (kesengsaraan). Setiap aktifis da’wah tentunya tidak mengharapkan akhir yang demikian (Su’ul Khotimah). Antisipasinya, setiap aktifis da’wah harus meningkatkan kualitas taqwa.