Keberhasilan
hakikatnya merupakan ibtila’ (cobaan) dari Allah yang lebih berat dari bala’
(kesusahan). Seorang ulama bijak berkata: “Bala’ (cobaan kesusahan) relative
masih bisa disabari oleh setiap muslim, tapi keberhasilan dan kesenangan jarang
sekali mampu disabari, kecuali oleh orang-orang yang siddiq.” Ketika
pintu-pintu dunia dibukakan kepada para sahabat Nabi, sebagian dari mereka
berkata, ”Kami sering dicoba dengan kesengsaraan, lalu kamipun bersabar. Namun
ketika kami dicoba dengan kesenangan dan kemewahan, diantara kami banyak yang
tidak mampu bersabar.”
Mushthafa
Mansyur dalam bukunya yang berjudul “Jalan Menuju Pembebasan” menempatkan
ketidaksabaran (termasuk ketidaksabaran terhadap kesenangan dak kemenangan)
sebagai salah satu factor penyebab penyimpangan (inhiraf) dalam da’wah. Orang
yang tidak sabar cenderung isti’jal (tergesa-gesa) dan kurang memahami manhaj
da’wah Rasulullah saw. Imam Al Ghazali berkata: “Sabar dalam kesenangan lebih
berat lanaran setiap orang cinta kepada kenikmatan. Banyak orang yang mampu menahan
lapar ketika tidak ada makanan. Namun sulit untuk bersabar tatkala makanan yang
lezat sudah terhidang dihadapannya.” Beliau juga menjelaskan, sabar terhadap
kesenangan adalah tidak cenderung berat kepadanya, tidak larut dalam kenikmatan
dan memahami bahwa semua itu adalah titipan Allah yang sewaktu-waktu akan
diambil kembali.
Dalam medan
jihad, peristiwa Perang Uhud cukup memberi pelajaran (ibroh), betapa menahan
nafsu untuk segera menikmati kemenangan dan keberhasilan amat sulit. Turunnya
pasukan pemanah dari atas bukit karena tidak sabar melihat ghonimah (harta
rampasan perang), mengakibatkan bencana yang memporak-porandakan kaum muslimin.
Pasukan Quraisy pimpinan Khalid Bin Walid (sebelum masuk Islam) yang tadinya
kocar-kacir balik menyerang setelah melihat pasukan pemanah kaum Muslimin tidak
berada di posnya.
Seorang
aktivis da’wah sering kali dihadapi dilema, antara tuntutan da’wah dan
kebutuhan dunia. Aktivitas da’wah, tidak dipungkiri banyak! Menyita waktu,
tenaga dan pikiran, bahkan biaya. Namun disisi lain pola hidup yang semakin
komplek dan modern, menuntut seorang da’i untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Misalnya pemenuhan kebutuhan keluarga, pengembangan dan peningkatan aktualisasi
diri, serta hubungan masyarakat (‘alaqoh ijtima’i). Untuk mengakomodasi semua
tuntutan di atas, dibutuhkan keputusan bijak yang berlandaskan fiqh muwazanah(konsep keseimbangan), fiqh aulawiyat (konsep prioritas), dan
fiqh waqi’ (konsep realitas).
Namun sebagian
bahan pertimbangan, ada baiknya setiap aktifis da’wah merenungkan firman Allah
SWT, dalam surat Al-Anfal: 26-29.
Dalam ayat 26,
Allah SWT melukiskan suasana da’wah Rasulullah Saw pada masa ta’sis
(perintisan). Pada masa itu Rasulullah Saw melaksanakan da’wah fardiyah secara
sembunyi-sembunyi. Jumlah pengikut baru belasan orang. Ketika da’wah beliau
mulai tercium kaum musyrikin Quraisy, satu persatu dari sahabat mendapat terror
dan penyiksaan. Shock Teraphy yang dilancarkan kaum Quraisy, menimbulkan rasa
takut dan khawatir dikalangan sahabat aktifis da’wah pada waktu itu. Disinilah
Allah mengingatkan agar setiap aktifis da’wah tidak melupakan masa lalu pribadi
dan da’wahnya.
Adalah
merupakan sunatullah, bahwa setiap aktifis da’wah pada awal perintisannya
memiliki gambaran lemah, tertindas, kekurangan SDM, dan selalu diliputi
ketakutan. Kemudian, seiring berjalannya waktu, Allah memberikan
pertolongan-pertolongan sehingga da’wah yang dulunya lemah dan tertindas
menjadi kuat, pengikutnya bertambah banyak dan perasaan takut berubah menjadi
‘izzah dan keberanian.
Keberpihakan
Allah kepada aktifis da’wah melahirkan kemenangan-kemenangan sehingga dunia
yang tadinya terasa sempit terasa menjadi lapang, rezeki mengalir bak air
sungai dan peluang-peluang menuju kehidupan yang lebih baik dan mapan terbuka
lebar.
Medan da’wah
pun makin luas dan beragam. Pada masa ta’sis, aktivitas da’wah terkonsentrasi
pada aspek pengokohan akidah, pembenahan akhlak dan pembentukan pribadi yang
paripurna yang berkomitmen kepada Islam. Tahap selanjutnya, orientasi da’wah
bertambah kepada membentuk keluarga sakinah-mawaddah-rahmah dan menciptakan
masyarakat yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Satu hal yang
diwanti-wanti Allah SWT sejak awal adalah dampak orientasi da’wah yang makin
luas, yaitu terpecahnya konsentrasi aktifis da’wah. Ayat 27-28 menjelaskan
fenomena negatif dalam da’wah, seperti futur, insilah, serta mengkhianati
amanah Allah dan Rasul-Nya lebih banyak disebabkan oleh faktor harta dan
keluarga. Inilah bukti kebenaran ucapan para ulama salaf di atas bahwa
menyabari ibtila’ yang berbentuk kesenangan dan kemenangan lebih berat dari
bala’ (kesengsaraan). Setiap aktifis da’wah tentunya tidak mengharapkan akhir
yang demikian (Su’ul Khotimah). Antisipasinya, setiap aktifis da’wah harus
meningkatkan kualitas taqwa.